Tidak lengkap rasanya jika menulis cuatan tanpa adanya keluhan. Bagaimanapun manusia tak luput dari ketidakpuasan. Dan ya... Aku juga manusia. Dan ya, tentu saja aku bisa mengeluh. Walaupun setelah itu aku berharap langsung melupakan keluhan itu.
Dalam situasi dimana orang menginginkan kondisi dan posisiku di dunia nyata saat ini, kadang aku merasa tidak puas dengan diri sendiri. Mencoba merefleksi diri apa yang terjadi dan apa yang sudah kulakukan, apakah itu tepat atau tidak tepat. Karna di dunia abu-abu ini yang menjadi fokusku adalah hitam dan putih.
Sering dikecewakan oleh ekspektasi terhadap kata-kata atau perbuatan orang lain memicuku untuk memutuskan bahwa apa yang ada dibelakang harus sama persis dengan di depan. Dengan kata lain, apa yang kukatakan konsisten dan selalu sama, baik yang kutampakkan maupun yang ku simpan. Meski tak semua hal, tapi aku berusaha untuk seperti itu. Terlebih jika itu menyangkut hubungan antar personal. Tapi aku selalu mencoba jujur dengan pikiranku sendiri dan apa yang ku utarakan. Tapi apakah itu salah?
Sebagian orang menganggap itu adalah suatu ketegasan dan mereka mendukungnya, sedangkan yang lain menganggap kekeraskepalaan atau sikap keterlaluan. Bagaimanapun juga tingkat wajar setiap ornag berbeda. Aku sadar akan kenyataan itu. Tapi jika pada akhirnya mereka berjalan dijalan yang sama namun merapat di sisi lain sehingga mengosongkan sisi ini apakah artinya sisi kosong yang ku ambil adalah jalur tanpa arus atau arah yang salah? Keleluasaan yang berlebihan seperti itu sangat asing bagi pejuang yang terbiasa berjalan normal di tangga tanpa bantuan eskalator. Bahkan bagi penyendiri sedikit terasa sepi.
Setidaknya aku agak terbiasa dengan ini. Menjadi pendatang dan berfokus pada kenyamanan yang memiliki batas waktu adalah hal yang melegakan. Meski akhinya hanya seorang diri, tapi menyamakan semua orang tanpa perlakuan berlebihan. Menjadikan mereka sebagai salah satu dermaga dalam penjelajahan samudera menjadikanku melihat sisi putih dan menyembunyikan atau mengesampingkan sisi hitam.
Tapi sekali lagi, di dunia abu-abu, warna bukan sekedar hitam dan putih. Kadang mereka bisa bertukar peran. Dan jika aku terlalu lama berlabuh di satu dermaga, aku akan terlanjur melihat dan merasakan warna-warna asing itu. Hal yang baik tapi tidak selamanya nyaman karna silaunya. Pada akhirnya hal itu membuat fokusku pecah dan terombang ambing dalam keraguan. Dan pertanyaan penyesalan yang seharusnya tak muncul datang mendekat. Ia berkata, apa yang kulakukan hingga memutuskan untuk berlabuh di dermaga ini? Dengan satu kapal kecil yang hanya melayarkan kita seorang diri, asing untuk setiap warna yang pantas dan tak pantas ditemui.
Komentar
Posting Komentar