Langsung ke konten utama

Outsider

Tidak lengkap rasanya jika menulis cuatan tanpa adanya keluhan. Bagaimanapun manusia tak luput dari ketidakpuasan. Dan ya... Aku juga manusia. Dan ya, tentu saja aku bisa mengeluh. Walaupun setelah itu aku berharap langsung melupakan keluhan itu.

Dalam situasi dimana orang menginginkan kondisi dan posisiku di dunia nyata saat ini, kadang aku merasa tidak puas dengan diri sendiri. Mencoba merefleksi diri apa yang terjadi dan apa yang sudah kulakukan, apakah itu tepat atau tidak tepat. Karna di dunia abu-abu ini yang menjadi fokusku adalah hitam dan putih. 

Sering dikecewakan oleh ekspektasi terhadap kata-kata atau perbuatan orang lain memicuku untuk memutuskan bahwa apa yang ada dibelakang harus sama persis dengan di depan. Dengan kata lain, apa yang kukatakan konsisten dan selalu sama, baik yang kutampakkan maupun yang ku simpan. Meski tak semua hal, tapi aku berusaha untuk seperti itu. Terlebih jika itu menyangkut hubungan antar personal. Tapi aku selalu mencoba jujur dengan pikiranku sendiri dan apa yang ku utarakan. Tapi apakah itu salah?

Sebagian orang menganggap itu adalah suatu ketegasan dan mereka mendukungnya, sedangkan yang lain menganggap kekeraskepalaan atau sikap keterlaluan. Bagaimanapun juga tingkat wajar setiap ornag berbeda. Aku sadar akan kenyataan itu. Tapi jika pada akhirnya mereka berjalan dijalan yang sama namun merapat di sisi lain sehingga mengosongkan sisi ini apakah artinya sisi kosong yang ku ambil adalah jalur tanpa arus atau arah yang salah? Keleluasaan yang berlebihan seperti itu sangat asing bagi pejuang yang terbiasa berjalan normal di tangga tanpa bantuan eskalator. Bahkan bagi penyendiri sedikit terasa sepi.

Setidaknya aku agak terbiasa dengan ini. Menjadi pendatang dan berfokus pada kenyamanan yang memiliki batas waktu adalah hal yang melegakan. Meski akhinya hanya seorang diri, tapi menyamakan semua orang tanpa perlakuan berlebihan. Menjadikan mereka sebagai salah satu dermaga dalam penjelajahan samudera menjadikanku melihat sisi putih dan menyembunyikan atau mengesampingkan sisi hitam.

Tapi sekali lagi, di dunia abu-abu, warna bukan sekedar hitam dan putih. Kadang mereka bisa bertukar peran. Dan jika aku terlalu lama berlabuh di satu dermaga, aku akan terlanjur melihat dan merasakan warna-warna asing itu. Hal yang baik tapi tidak selamanya nyaman karna silaunya. Pada akhirnya hal itu membuat fokusku pecah dan terombang ambing dalam keraguan. Dan pertanyaan penyesalan yang seharusnya tak muncul datang mendekat. Ia berkata, apa yang kulakukan hingga memutuskan untuk berlabuh di dermaga ini? Dengan satu kapal kecil yang hanya melayarkan kita seorang diri, asing untuk setiap warna yang pantas dan tak pantas ditemui.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hal-Hal 1

  Hal yang paling membuatku terenyuh minggu ini Selasa, adalah hari yang tergolong longgar bagiku karna jadwal mengajar hanya di jam pertama dan jam terakhir. Waktu yang tepat untuk mereview kondisi kehadiran siswa kelas yang ku pegang sebagai wali kelas. Salah satu anak, sebut saja namanya Rara, sebenarnya adalah anak yang tekun. Sebenarnya di semester sebelumnya tidak pernah mengalami permasalahan kehadiran. Namun di semester ini, ketika pembelajaran baru terlaksana setengah jalan semester, kekosongan kehadiran tanpa keterangan benar-benar mencolok. Delapan kali tidak hadir tanpa keterangan.  Mengingat sejenak tentang kebiasaan di kelas atau diluar kelas, walaupun tergolong pendiam, dia cukup bersosialisasi dengan baik bersama teman dan guru lainnya. Sedikit penasaran, jadi kuputuskan untuk mengadakan sesi pembimbingan. Sesi pembimbingan tidak berjalan lama, hanya sekitar setengah sampai satu jam. Dan pada sesi itu menghasilkan alasan yang sederhana, bangun kesiangan atau ti...

Turns Out

Ku pikir selama ini mereka tidak menyukaiku. Sangat. Bahkan udara mengatakan dengan sangat kuat aroma ketidaksukaan itu. Aku tidak mengerti kenapa. Kadang kupikir mungkin selama ini anggapanku bahwa mereka adalah orang yang toxic itu salah.  Mungkin mereka hanya membuat keputusan untuk bersikap dengan objektif demi kebaikan bersama, dan budaya kerjaku tidak cocok untuk kemajuan bersama. Mungkin sebenarnya yang patut digolongkan ke golongan orang toxic adalah aku. Yang merasa tidak habis pikir dan tidak cocok dengan gaya bekerja mereka. Toh melawan opini sistem memang tidak mudah. Tapi ternyata kabar terakhir membuatku berubah pikiran. Apakah anggapanku bahwa bukan hanya mereka, bahkan sistem yang mengikat mereka, dan bahkan aku sendirilah yang toxic? Aku tidak bisa begitu saja menyimpulkan dari ucapan tak sengaja beberapa orang saja. Apalagi selalu ada perselisihan antar kubu di sana. Setidaknya untuk membantuku menganalisisnya, coba kita lihat berbagai ucapan tak disengaja dari be...