Langsung ke konten utama

Turns Out

Ku pikir selama ini mereka tidak menyukaiku. Sangat. Bahkan udara mengatakan dengan sangat kuat aroma ketidaksukaan itu. Aku tidak mengerti kenapa. Kadang kupikir mungkin selama ini anggapanku bahwa mereka adalah orang yang toxic itu salah. 

Mungkin mereka hanya membuat keputusan untuk bersikap dengan objektif demi kebaikan bersama, dan budaya kerjaku tidak cocok untuk kemajuan bersama. Mungkin sebenarnya yang patut digolongkan ke golongan orang toxic adalah aku. Yang merasa tidak habis pikir dan tidak cocok dengan gaya bekerja mereka. Toh melawan opini sistem memang tidak mudah.

Tapi ternyata kabar terakhir membuatku berubah pikiran. Apakah anggapanku bahwa bukan hanya mereka, bahkan sistem yang mengikat mereka, dan bahkan aku sendirilah yang toxic? Aku tidak bisa begitu saja menyimpulkan dari ucapan tak sengaja beberapa orang saja. Apalagi selalu ada perselisihan antar kubu di sana. Setidaknya untuk membantuku menganalisisnya, coba kita lihat berbagai ucapan tak disengaja dari berbagai orang di dalam sistem ini.

Salah satu rekan kerjaku tidak sengaja berkata padaku bahwa atasan mengatakan kepada orang pilihannya di kegiatan tertentu jangan sampai kalah denganku yang berhasil mendapatkan predikat berprestasi di dua tahun lalu yang bahkan tidak ku ikuti. Ya, kebetulan aku mendapatkan tempat pertama untuk pertandingan tingkat kota itu, tapi itu bukan untuk predikat berprestasi, tapi sekedar olimpiade 😅. Dan orang yang tak sengaja memberitahuku itu tak sadar memberitahuku bahwa beberapa atasan (dengan jabatan dibawah atasan tadi) secara tidak langsung mengatakan jangan memasukkan namaku lagi, jangan sampai memasukkan namaku dikegiatan apapun. Hmmm... salah kah jika aku berpikir bahwa mereka membatasi pergerakanku untuk kegiatan apapun supaya tidak naik lagi?

Sebenarnya aku senang dengan hal itu, sungguh nikmat tersendiri bisa mengerjakan yang hanya tupoksi kita. Apalagi setelah bertahun-tahun bisa dikatakan aku tidak punya waktu libur karna jabatan tertentu. di tempat kerja. Tapi bagaimanapun, aku manusia yang hanyalah makhluk sosial. Kadang terganggu dengan gosip yang muncul di permukaan. Dan kini akhirnya pikiranku terbuka dengan terang. Ternyata..

Hahaha... sepertinya mereka iri dengan pencapaianku dan tidak ingin aku lebih dari ini. 😂

Coba saja perhatikan, di 2 atasan sebelumnya aku yang pendatang baru di tempat kerja yang tidak kenal siapapun di tempat ini diberi kepercayaan untuk mengatur dan mengawasi keuangan sekolah dan kegiatan sekolah. Lagi-lagi uang adalah hal yang sangat menyilaukan bagi banyak orang. Dan akulah yang menjadi kepercayaan atasan. Mereka tidak sadar bahwa menjadi jabatan itulah yang sebenarnya paling menguras energi dan pikiran, aku tidak pernah nyaman dalam memikirkan pengaturan dan anggapan orang. Baru setelah aku mengundurkan diri dari jabatan itu untuk fokus di tupoksi jabatan asliku aku bisa tidur tenang dan menikmati libur di akhir minggu atau libur lainnya bersama diri sendiri ataupun keluarga.

Bagaimanapun mereka tidak ingin mengikutsertakanku dalam kegiatan apapun, ketika membutuhkan pemikiran dan analisis mereka langsung menerima pendapatku secara bulat dan utuh. Lucu, tapi begitulah tempat kerjaku. 

Pada akhirnya, bagaimanapun mereka tidak menyukaiku, mereka tetap membuthkanku. Terima kasih Tuhan, sudah memberikan pengalaman selama ini untuk terus meningkatkan kemampuanku meski sebatas rata-rata, namun aku percaya diri dengan kemampuan di berbagai bidang. Karna pada akhirnya, mereka yang membutuhkan kita tetap mau tidak mau menekan egonya sendiri untuk meminta bantuanku. Terkesan agak sombong dari pemikiranku, tapi bagaimanapun itu caraku menumbuhkan kepercayaan diri supaya bisa bertahan di dunia kerja yang cukup kejam saat kau merasakannya di dalam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hal-Hal 1

  Hal yang paling membuatku terenyuh minggu ini Selasa, adalah hari yang tergolong longgar bagiku karna jadwal mengajar hanya di jam pertama dan jam terakhir. Waktu yang tepat untuk mereview kondisi kehadiran siswa kelas yang ku pegang sebagai wali kelas. Salah satu anak, sebut saja namanya Rara, sebenarnya adalah anak yang tekun. Sebenarnya di semester sebelumnya tidak pernah mengalami permasalahan kehadiran. Namun di semester ini, ketika pembelajaran baru terlaksana setengah jalan semester, kekosongan kehadiran tanpa keterangan benar-benar mencolok. Delapan kali tidak hadir tanpa keterangan.  Mengingat sejenak tentang kebiasaan di kelas atau diluar kelas, walaupun tergolong pendiam, dia cukup bersosialisasi dengan baik bersama teman dan guru lainnya. Sedikit penasaran, jadi kuputuskan untuk mengadakan sesi pembimbingan. Sesi pembimbingan tidak berjalan lama, hanya sekitar setengah sampai satu jam. Dan pada sesi itu menghasilkan alasan yang sederhana, bangun kesiangan atau ti...

Outsider

Tidak lengkap rasanya jika menulis cuatan tanpa adanya keluhan. Bagaimanapun manusia tak luput dari ketidakpuasan. Dan ya... Aku juga manusia. Dan ya, tentu saja aku bisa mengeluh. Walaupun setelah itu aku berharap langsung melupakan keluhan itu. Dalam situasi dimana orang menginginkan kondisi dan posisiku di dunia nyata saat ini, kadang aku merasa tidak puas dengan diri sendiri. Mencoba merefleksi diri apa yang terjadi dan apa yang sudah kulakukan, apakah itu tepat atau tidak tepat. Karna di dunia abu-abu ini yang menjadi fokusku adalah hitam dan putih.  Sering dikecewakan oleh ekspektasi terhadap kata-kata atau perbuatan orang lain memicuku untuk memutuskan bahwa apa yang ada dibelakang harus sama persis dengan di depan. Dengan kata lain, apa yang kukatakan konsisten dan selalu sama, baik yang kutampakkan maupun yang ku simpan. Meski tak semua hal, tapi aku berusaha untuk seperti itu. Terlebih jika itu menyangkut hubungan antar personal. Tapi aku selalu mencoba jujur dengan pikir...