Hal yang paling membuatku terenyuh minggu ini
Selasa, adalah hari yang tergolong longgar bagiku karna jadwal mengajar hanya di jam pertama dan jam terakhir. Waktu yang tepat untuk mereview kondisi kehadiran siswa kelas yang ku pegang sebagai wali kelas. Salah satu anak, sebut saja namanya Rara, sebenarnya adalah anak yang tekun. Sebenarnya di semester sebelumnya tidak pernah mengalami permasalahan kehadiran. Namun di semester ini, ketika pembelajaran baru terlaksana setengah jalan semester, kekosongan kehadiran tanpa keterangan benar-benar mencolok. Delapan kali tidak hadir tanpa keterangan.
Mengingat sejenak tentang kebiasaan di kelas atau diluar kelas, walaupun tergolong pendiam, dia cukup bersosialisasi dengan baik bersama teman dan guru lainnya. Sedikit penasaran, jadi kuputuskan untuk mengadakan sesi pembimbingan.
Sesi pembimbingan tidak berjalan lama, hanya sekitar setengah sampai satu jam. Dan pada sesi itu menghasilkan alasan yang sederhana, bangun kesiangan atau tidak ada yang bisa mengantarkan kesekolah. Namun setelah perbincangan yang lumayan panjang, ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil dengan pokok ujung tombak permasalahan pada kondisi keluarga. Apakah keluarga tidak mampu? Ya salah satunya. Tapi menurutku ini adalah permasalah kesiapan dalam suatu keluarga. Sebagai anak Rara sudah tergolong anak yang sangat mandiri. Namun betapapun seorang anak mandiri, pasti ada saat yang ia tidak dapat berbuat atau berpikir untuk memutuskan sesuatu atau mungkin serba salah untuk memutuskan sesuatu.
Mendengar dari ceritanya, Rara selama ini seolah hidup sendiri di dunia ini dengan berbekal rasa kasihan para tetangga. Kedua orang tuanya memutuskan berpisah dan memiliki pasangan masing-masing. Ayah kandung tidak bisa lagi menemuinya karna tuntutan keluarga barunya, sehingga seperti di drama yang selama ini menurutku berlebihan dan dibuat-buat tentang sulitnya menemui anak kandung hingga memberi uang jajanpun atau bertemu sekalipun harus sembunyi-sembunya. Tapi skenario drama ini malah benar-benar terjadi di salah satu anak didikku. Sebagai anak yang baru menginjak umur remaja dan bisa memaklumi kondisi itu, menurutku sungguh luar biasa.
Tak hanya sampai disitu saja. Kondisi perpisahan ini mengharuskan ia ikut ibunya yang awalnya kembali kerumah keluarganya, tapi lagi-lagi karena sang ibu ingin membentuk keluarga baru meski tanpa persetujuan keluarga, akhirnya mau tak mau ia bersama ibu dan ayah barunya pergi ke tempat tinggal baru dengan hanya mereka bertiga. Permasalahan terjadi karena Rara pun tidak akrab dengan ayah barunya. Ibu dan ayah barunya jarang dirumah karena di desak kondisi ekonomi. pergi sebelum ia bangun untuk ke sekolah, dan pulang nyaris selalu setelah jam 10 malam meski di tempat kerja yang berbeda. Dalam ceritanya, Rara pun sering kasihan pada sang ibu karena selalu terlihat lelah sehingga sesekali ia memutuskan alih-alih ke sekolah, ia pergi membantu ibunya. Bagaimana dengan surat izin? Tentu saja tidak ada.
Ketika ku tanya bagaimana jika sakit (karna sebelumnya ia pernah pingsan saat upacara), apakah ada yang mengurus di rumah, dan bagaimana dengan sarapan atau makan siang setelah pulang sekolah (karena hasil laporan biodata di awal tahun ajaran yang ku lakukan, aku mendapat catatan kesehatannya yang mempunyai riwayat asam lambung, usus buntu dan alergi berbagai makanan), jawabannya adalah untuk makan ia akan memasak sendiri, dengan menu rata-rata nasi goreng atau mie. Sesekali tante angkatnya yang adalah tetangganya akan mengajaknya makan dirumah. Saat sakit biasanya ibunya mengambil libur kerja.
Mendengar semua ceritanya aku terdiam. Bingung mau merespon bagaimana. Hanya bisa memberi sedikit saran untuk lebih memperhatikan makan dan memberi sedikit jalan keluar tentang perizinan untuk kehadiran. Bahkan ketika ku sampaikan ke guru wali, serta seorang guru yang tinggal di sekitar rumahnya pun mengaminkan kisah itu.
Dari sini aku bercermin akan situasiku yang rasanya lebih baik. Meski aku masih sedikit kesulitan membayangkan aku berada di posisinya, karena aku bersyukur berada di tengah keluarga yang memenuhi tangki cintaku saat kecil. Tapi aku juga tidak bisa menempatkan posisiku di posisi orang tuanya, karna aku belum menjadi orang tua siapapun. Sedikit ego ku menyalahkan orang-orang yang belum sanggup mengurus diri sendiri untuk kehidupan yang baik tapi mereka dengan egois memutuskan menikah dan punya anak hanya untuk menghancurkan harapan dan masa depan dari mental anak yang rusak, hanya karna mereka belum siap untuk menanggung hidup lain yang muncul dari pernikahan mereka.
Setidaknya aku berharap suatu hari nanti jika aku dipercaya untuk membangun satu keluarga, aku harus siap materiil dan non materiil. Karna kadang hidup ini terasa kejam bagi yang kesiapannya hanya setengah-setengah.
Komentar
Posting Komentar