Langsung ke konten utama

Omnicient Viewer

Sebenarnya bukan maha tahu, tapi hanya menyimpulkan sepihak tanpa pengaruh atau sudut pandang lain. But, ya, ini adalah pendapat dari satu sudut pandang yang kadang merasa bahwa diri ini adalah seorang yang perfeksionis saat memutuskan untuk melakukan sesuatu atau menyelesaikan sesuatu. 2 event yang sangat berdekatan dengan penanggung jawab tim yang sama, sehingga awalnya merasa bahwa event kedua bisa dipercayakan pada orang yang rasanya mumpuni sehingga merasa tidak perlu ikut campur dalam mengulik persiapan, namun hasilnya ternyata zonk. Tapi bagaimanapun ini adalah salahku sendiri, kenapa aku bisa begitu saja melepaskan persiapan tanpa menilik sedikitpun dan mudah saja percaya bahwa yang lain bisa menyelesaikannya. 

Ya, aku bukan pimpinan proyek, dan aku tahu bahwa pimpinan kami maaf saja tapi memang kurang dan sering menghilang ketika dibutuhkan. Jadi aku tak bisa protes atau mengkritik begitu saja. Tapi ini adalah kerja tim, bukan kerja individu sehingga aku mau tidak mau berharap karna tujuan kita sudah jelas sehingga rasanya sudah cukup untuk diaplikasikan di saat event dimulai. Pada kenyataannya, terlalu banyak yang merasa menjadi ketua tim di sini. Tapi ternyata lagi-lagi waktu membuktikan padaku bahwa percaya dan berharap pada manusia itu sia-sia dan hanya membuahkan kekecewaan. Meskipun itu adalah orang yang awalnya kita anggap mumpuni dan bisa dipercaya. Karna pada akhirnya yang terlihat dan terpampang jelas adalah bentuk cemas mereka yang dibalut dengan kebingungan tidak tahu harus dimulai dari mana.

Pelajaran yang kupetik dalam menilai adalah, dia, yang kemarin kupercaya untuk menghandle acara, kurang cocok dengan posisi itu. Tapi ia sangat pandai dalam hal komunikasi sehingga dalam kegiatan sangat cocok sebagai humas, bukan sebagai perancang kegiatan. Kenapa? Karna kurang teliti dalam perincian. Agak menyesal kemarin, tapi ya sudahlah. Anggap saja pelajaran. But ya, i hope in next year, i'm not integrated in that environtment full of toxic people.  Well, lingkungan memang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kewarasan mental. Tapi bagaimanapun, karna aku besar dilingkungan yang keras, aku yakin bisa melawan dengan mengembangkan sikap masa bodo yang tinggi. Atau apatis? Rasanya tidak juga, kadang masih terpikir harus bagaimana supaya lingkungan ini menjadi lebih baik. Atau ini yang namanya julid?

Dan terakhir, kita memang baru bisa melihat tingkat profesionalitas seseorang setelah bekerja sama. Dan adegan yang biasa muncul di dalam drama tentang pembicaraan depan dan belakang memang benar adanya. Selalu ada manusia seperti itu di setiap tempat dan lapisan. Terus apa? Yah, cukup kembangkan masa bodo adalah jalan menuju kewarasan. Setidaknya menurutku. Karna si penusuk dari belakang tidak akan pernah ada habisnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hal-Hal 1

  Hal yang paling membuatku terenyuh minggu ini Selasa, adalah hari yang tergolong longgar bagiku karna jadwal mengajar hanya di jam pertama dan jam terakhir. Waktu yang tepat untuk mereview kondisi kehadiran siswa kelas yang ku pegang sebagai wali kelas. Salah satu anak, sebut saja namanya Rara, sebenarnya adalah anak yang tekun. Sebenarnya di semester sebelumnya tidak pernah mengalami permasalahan kehadiran. Namun di semester ini, ketika pembelajaran baru terlaksana setengah jalan semester, kekosongan kehadiran tanpa keterangan benar-benar mencolok. Delapan kali tidak hadir tanpa keterangan.  Mengingat sejenak tentang kebiasaan di kelas atau diluar kelas, walaupun tergolong pendiam, dia cukup bersosialisasi dengan baik bersama teman dan guru lainnya. Sedikit penasaran, jadi kuputuskan untuk mengadakan sesi pembimbingan. Sesi pembimbingan tidak berjalan lama, hanya sekitar setengah sampai satu jam. Dan pada sesi itu menghasilkan alasan yang sederhana, bangun kesiangan atau ti...

Turns Out

Ku pikir selama ini mereka tidak menyukaiku. Sangat. Bahkan udara mengatakan dengan sangat kuat aroma ketidaksukaan itu. Aku tidak mengerti kenapa. Kadang kupikir mungkin selama ini anggapanku bahwa mereka adalah orang yang toxic itu salah.  Mungkin mereka hanya membuat keputusan untuk bersikap dengan objektif demi kebaikan bersama, dan budaya kerjaku tidak cocok untuk kemajuan bersama. Mungkin sebenarnya yang patut digolongkan ke golongan orang toxic adalah aku. Yang merasa tidak habis pikir dan tidak cocok dengan gaya bekerja mereka. Toh melawan opini sistem memang tidak mudah. Tapi ternyata kabar terakhir membuatku berubah pikiran. Apakah anggapanku bahwa bukan hanya mereka, bahkan sistem yang mengikat mereka, dan bahkan aku sendirilah yang toxic? Aku tidak bisa begitu saja menyimpulkan dari ucapan tak sengaja beberapa orang saja. Apalagi selalu ada perselisihan antar kubu di sana. Setidaknya untuk membantuku menganalisisnya, coba kita lihat berbagai ucapan tak disengaja dari be...

Outsider

Tidak lengkap rasanya jika menulis cuatan tanpa adanya keluhan. Bagaimanapun manusia tak luput dari ketidakpuasan. Dan ya... Aku juga manusia. Dan ya, tentu saja aku bisa mengeluh. Walaupun setelah itu aku berharap langsung melupakan keluhan itu. Dalam situasi dimana orang menginginkan kondisi dan posisiku di dunia nyata saat ini, kadang aku merasa tidak puas dengan diri sendiri. Mencoba merefleksi diri apa yang terjadi dan apa yang sudah kulakukan, apakah itu tepat atau tidak tepat. Karna di dunia abu-abu ini yang menjadi fokusku adalah hitam dan putih.  Sering dikecewakan oleh ekspektasi terhadap kata-kata atau perbuatan orang lain memicuku untuk memutuskan bahwa apa yang ada dibelakang harus sama persis dengan di depan. Dengan kata lain, apa yang kukatakan konsisten dan selalu sama, baik yang kutampakkan maupun yang ku simpan. Meski tak semua hal, tapi aku berusaha untuk seperti itu. Terlebih jika itu menyangkut hubungan antar personal. Tapi aku selalu mencoba jujur dengan pikir...