Langsung ke konten utama

SEPUTAR JINX

Salah seorang siswa di kelas memiliki keyakinan bahwa ia akan gagal disetiap hal yang ia lakukan. Beberapa kali ia memberanikan diri untuk bercerita padaku mengenai keresahan hatinya. Dan keresahan itu selalu berkaitan dengan ketidakpercayaan diri yang kuat. Sebagai wali kelas sekaligus guru wali, aku sangat senang ketika mereka memutuskan untuk membuka diri padaku. Pikirku mengatakan bahwa setidaknya kepercayaan mereka masih ada padaku. Ada sedikit rasa bangga di prosesnya, karna biasanya di masa keterbukaan dan kelembutan pelayanan BK masa kini, siswa lebih suka bercerita pada guru BK. tidak seperti di masa ku sekolah dulu yang mana guru BK alias BP pada masa itu hanya terkesan killer dan tempat hukuman, saat ini BK menjadi wadah yang sangat aman dan mengayomi, sehingga kadang terasa bahwa mereka tidak butuh lagi wali kelas yang padahal menurutku sebenarnya berperan sebagai rumah kedua. Tapi tidak apa, karna artinya pekerjaan yang menguras emosional dan berpikir keras tentang hal yang lebih privasi dari para siswa menjadi berkurang. Namun demikian, guru mana sih yang tidak senang jika mendapat kepercayaan siswa? Kurasa semua pasti merasa tersentuh dan semankin menyayangi interaksi hangat itu. Yah, setidaknya itu dari sudut pandangku. Karna kepercayaan adalah hal yang paling mahal di dunia ini.

Kembali lagi pada cerita si anak. Sebut saja namanya Awan (bukan nama sebenarnya). Dalam setiap sesi ceritanya, dengan tawa yang terkesan agak getir dan menguatkan diri, ada kesan tidak puas dengan apa yang ia pikirkan, lakukan dan putuskan dalam kesehariannya yang ingin menunjukkan dan memberikan rasa bangga dari orang tua. Dengan latar belakang keluarga yang dibesarkan oleh seorang ibu, dimana sang ayah telah berpulang lebih dulu, ia ingin membuktikan bahwa aku bisa berprestasi untuk ibu. Ia mempunyai jiwa juang yang tinggi dan tidak kenal lelah, serta kekuatan bersosialisasi yang luar biasa. Hanya sayangnya ia tidak menyadari kelebihan itu. Mungkin karna latar belakang keluarga menjadikannya sedikit rendah diri dan memikirkan kesan dan pendapat orang lain terhadap dirinya yang menuntut kesempurnaan, sehingga yang tertinggal dan berkesan baginya hanyalah pendapat negatif dari segelintir orang yang tidak begitu mengenalnya. Pada akhirnya, hal ini secara tidak sadar menghambat kemajuannya.

Awan adalah seorang anak dengan kemampuan akademis baik, namun kemampuan di bidang seni dan sastra bahkan lebih baik dari akademis dan olahraganya. Ia aktif di semua kegiatan sekolah. Sekali lagi SEMUA. Karena bahkan jika ia bukan bagian dari ekskul besar tertentu, ia mampu menjadi bala bantuan pada hal-hal yang seharusnya di kuasai oleh ekskul tertentu. Ia bukanlah ketua ataupun pimpinan di bidang tertentu, tapi jujur saja, dari observasi yang ku lakukan, jika ia tidak menjadi bagian dari suatu hal yang ia lakukan, itu tidak akan selancar ini. Dan sebagai tambahan, semua kegiatan tahun ajaran ini tergolong sangat berhasil dan lancar dibanding tahun ajaran sebelumnya. Tapi sekali lagi, ia tidak sadar dengan kemampuannya yang bisa dikatakan seperti saus spesial dalam burger. Ia masih merasa bahwa ia adalah orang yang selalu di takdirkan gagal.

Pada awal sesi bimbingan, ia bercerita mengenai bagaimana ia gagal menyuguhkan kemenangan dalam lomba ilustrasi tingkat sekolah saat mewakili kelas. Sekedar informasi, sebenarnya gambarnya sudah sangat baik. Mau tak mau aku mengingatkan bahwa hal kalah dan menang dalam kompetisi itu biasa, cukup jadikan pengalaman dan jangan tenggelam di dalamnya. Selanjutnya, pada event selanjutnya ia merasa gagal kembali saat cerita pendek buatannya gagal tembus tingkat sekolah untuk mengikuti ajang perlombaan tingkat kota. Dari kedua perlombaan itu, ia mengakui bahwa saingannya saat itu adalah teman-teman dekatnya yang selalu bersama dalam membuat karya-karya mereka. Terakhir ketika memasuki perlombaan antar kelas saat bulan ramadhan, ia mengikuti lomba sholat berjamaah sekaligus adzan subuh, ia merasa tidak maksimal.

Saat sesi kesekian kali itulah Awan mengatakan padaku, "Bu, sepertinya saya memang selalu ditakdirkan kalah. Saya tidak bisa melakukan apapun. Saya merasa frustasi, bu. Sepertinya ini kutukan buat saya."

Jujur, saat mendengarnya aku merasa ada guntur yang muncul di ruang dimensi pikiranku. Apa-apaan ini? Jinx? Sontak pada saat yang sama aku seperti melihat ke diriku sendiri. Dulu, bahkan sampai sekarang aku juga sama. Jarang menjadi yang pertama. Tapi bedanya aku hanya menjalani dan menikmatinya saja. Tidak ada rasa genderang api semangat yang bergitu besar yang menggelora di dadaku saat mengikuti kegiatan apapun. Tujuannya apa? Hanya agar tidak kecewa. Tpi apa yang dikatakan Awan tentu saja membuat pikiranku sepersekian detik, apakah aku juga punya Jinx itu? Namun dalam waktu beberapa detik yang seakan lama itu, aku kembali mengingatkan diriku kembali, "Hei, jangan ngelantur kemana-mana dulu!!! Ayo kembalikan semangat Awan agar bisa terus dan mau mencoba melakukan hal yang ia sukai!!!" Itu adalah apa yang ku katakan padaku sendiri.

Pada akhirnya, satu dari panjang hal yang kami diskusikan, aku mencoba memberi saran padanya bahwa " Awan, kalau kamu merasa Burn Out, Stuck, Atau mentok sehingga tidak muncul passion dan semangat melakukan hal-hal itu, cukup istirahat dulu. Hentikan sementara dan jangan paksa diri melakukannya dulu sampai gelora itu muncul lagi dalam hati Awan. Selanjutnya baru lakukan lagi hal-hal yang kamu sukai, terus ikuti kompetisi dengan tujuan mencapai dan menikmati proses sebagai pengalaman yang nanti akan selalu kamu ingat saat sudah dilalui. Membuat target Juara itu pasti, tapi jangan jadikan tujuan akhir. Jadikan sesuatu seperti Juara itu hanya sebagai Bonus. Dengan begitu, Awan akan bisa menikmati hal ataupun yang Awan putuskan untuk Awan ikuti. Ingat saja, target untuk menang itu pasti, tapi Juara itu Bonus."

Saat aku mengatakan itu, ia terdiam sejenak dengan wajah masih menunduk kearah buku cerita karangannya sendiri yang ia bawa, yang sebelumnya sempat ia perlihatkan padaku. Jujur saja, untuk anak seusianya, cerita fiksi yang ia buat sudah bagus, hanya perlu sedikir lebih sering untuk berlatih. Ia termenung hampir beberapa menit. Setelah itu ia mengangkat kepalanya, menatapku dengan pandangan polos seorang anak, dengan kesan api kecil yang mulai muncul kembali.

Beberapa waktu berlalu, saat kompetisi olahraga sekolah di adakan, ia termasuk dalam tim kelas. Tim terus maju hingga semi final. Hal yang membahagiakan pastinya, melihat mereka begitu berkobar, meski ada sedikit drama sebelum pertandingan karna mereka ditipu oleh pedagang online saat memesan jersey sehingga kehilangan sekian ratus ribu, namun setidaknya itu jadi pelajaran bagi mereka, dan malah mengobarkan semangat juang. Jujur sebagai wali kelas aku bangga. Sejauh di sekolah ini, ini adalah kelas terdamai yang kumiliki. Namun tidak bohong bahwa aku sedikit khawatir dengan mental Awan yang selalu merasa apapun yang ia lakukan pasti gagal. Apalagi selain sebagai pemain, ia juga berperan sebagai anggota dari panitia pelaksana. Kerja yang cukup sibuk. Ditambah lagi aku sendiri jadi merasa punya jinx sendiri, yang jika aku totalitas mendukung suatu hal dan datang, tim yang ku dukung sepenuh hati selalu hanya sampai final. Dan ya, sayangnya mereka tidak sampai final. Saat itu aku merasa khawatir dengannya. Tapi saat salah seorang di kelas mendapatkan gelar Best Player, mereka kembali tersenyum dengan cerah walau masih ada pandangan sayang dengan nyaris memegang piala juara. Tapi setidaknya kekhawatiran rasa rendah dirinya sedikit berkurang.

Mungkin juga, karna saat itu Awan juga sedang sibuk mempersiapkan perlombaan tingkat kota yang akan dilakukannya dalam mewakili sekolah. Sebelum memutuskan untuk ikut seleksi perlombaan inipun, ia sempat bercerita di sesi curhatnya, bahwa ia merasa tidak pantas untuk ikut hal yang 'sepertinya' sangat ia sukai itu karna komentar salah seorang disana. Tapi pada akhirnya perbincangan kami membuahkan hasil bahwa ia akan terus lanjut dalam seleksi. 

Dan pada akhirnya, akhir pekan lalu saat mewakili sekolah untuk kompetisi tinggat kota, Timnya berhasil meraih juara 1. Dengan sangat sumringah, hari sekolah keesokannya, ia berlari keruang guru, dan langsung berkata "Buk, saya dan teman-teman berhasil!" Dan detik itu juga, aku kembali terharu. Mungkin rasanya jadi seorang ibu juga akan seperti ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hal-Hal 1

  Hal yang paling membuatku terenyuh minggu ini Selasa, adalah hari yang tergolong longgar bagiku karna jadwal mengajar hanya di jam pertama dan jam terakhir. Waktu yang tepat untuk mereview kondisi kehadiran siswa kelas yang ku pegang sebagai wali kelas. Salah satu anak, sebut saja namanya Rara, sebenarnya adalah anak yang tekun. Sebenarnya di semester sebelumnya tidak pernah mengalami permasalahan kehadiran. Namun di semester ini, ketika pembelajaran baru terlaksana setengah jalan semester, kekosongan kehadiran tanpa keterangan benar-benar mencolok. Delapan kali tidak hadir tanpa keterangan.  Mengingat sejenak tentang kebiasaan di kelas atau diluar kelas, walaupun tergolong pendiam, dia cukup bersosialisasi dengan baik bersama teman dan guru lainnya. Sedikit penasaran, jadi kuputuskan untuk mengadakan sesi pembimbingan. Sesi pembimbingan tidak berjalan lama, hanya sekitar setengah sampai satu jam. Dan pada sesi itu menghasilkan alasan yang sederhana, bangun kesiangan atau ti...

Turns Out

Ku pikir selama ini mereka tidak menyukaiku. Sangat. Bahkan udara mengatakan dengan sangat kuat aroma ketidaksukaan itu. Aku tidak mengerti kenapa. Kadang kupikir mungkin selama ini anggapanku bahwa mereka adalah orang yang toxic itu salah.  Mungkin mereka hanya membuat keputusan untuk bersikap dengan objektif demi kebaikan bersama, dan budaya kerjaku tidak cocok untuk kemajuan bersama. Mungkin sebenarnya yang patut digolongkan ke golongan orang toxic adalah aku. Yang merasa tidak habis pikir dan tidak cocok dengan gaya bekerja mereka. Toh melawan opini sistem memang tidak mudah. Tapi ternyata kabar terakhir membuatku berubah pikiran. Apakah anggapanku bahwa bukan hanya mereka, bahkan sistem yang mengikat mereka, dan bahkan aku sendirilah yang toxic? Aku tidak bisa begitu saja menyimpulkan dari ucapan tak sengaja beberapa orang saja. Apalagi selalu ada perselisihan antar kubu di sana. Setidaknya untuk membantuku menganalisisnya, coba kita lihat berbagai ucapan tak disengaja dari be...

Outsider

Tidak lengkap rasanya jika menulis cuatan tanpa adanya keluhan. Bagaimanapun manusia tak luput dari ketidakpuasan. Dan ya... Aku juga manusia. Dan ya, tentu saja aku bisa mengeluh. Walaupun setelah itu aku berharap langsung melupakan keluhan itu. Dalam situasi dimana orang menginginkan kondisi dan posisiku di dunia nyata saat ini, kadang aku merasa tidak puas dengan diri sendiri. Mencoba merefleksi diri apa yang terjadi dan apa yang sudah kulakukan, apakah itu tepat atau tidak tepat. Karna di dunia abu-abu ini yang menjadi fokusku adalah hitam dan putih.  Sering dikecewakan oleh ekspektasi terhadap kata-kata atau perbuatan orang lain memicuku untuk memutuskan bahwa apa yang ada dibelakang harus sama persis dengan di depan. Dengan kata lain, apa yang kukatakan konsisten dan selalu sama, baik yang kutampakkan maupun yang ku simpan. Meski tak semua hal, tapi aku berusaha untuk seperti itu. Terlebih jika itu menyangkut hubungan antar personal. Tapi aku selalu mencoba jujur dengan pikir...